(Inspirasi) Tetap Bertahan, Demi …

August 11th, 2008 by pram-axe26

Sungguh banyak peristiwa dan fakta dalam kehidupan yang bisa menjadi inspirasi bagi diri dan untuk selalu bersyukur  dengan apa yang ditetapkan serta selalu berusaha untuk berbuat yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. 

***

 

Ya
hampir sebulan lebih penjual nasi goreng yang biasa lewat lingkungan
kos-kosan tidak berjualan. Tidak ada lagi suara khas ketukan sendok dan
wajan berbunyi “Tek tek tek” . Karena sudah akrab ditelinga walaupun
baru kedengaran di kejauhan sudah dipastikan Alfarizy. Alfarizy bukan
nama penjual nasi goreng tersebut, tapi label yang ditempelkan pada
gerobaknya, sedari awal mengingatkan kita pada sahabat rasul, apakah
sahabat Salman Al-Farisi yang dimaksud?

      

Sudah
lebih dari 5 tahun kami anak kos-kosan dimanjakan dengan masakannya,
saat lapar menjelang malam tiba dan kaki enggan melangkah dari kejauhan
sudah terdengar bunyi ketukan, Nah itu dia lewat, Dari jendela kita
bisa pesan, Mie Goreng, Nasi Goreng or Mie Rebus sesuai dengan selera
saat itu. Pak saya pesan : Mie Rebus, pedes and banyakin kuahnya, Nasi
goreng pake sayur, pedes plus telor ceploknya, Mie goreng dibungkus
untuk makan nanti  tengah malam. Begitulah
dialog yang sering terjalin dengan penjual nasi goreng tersebut.
Setelah dipesan dia menyiapkan dengan cepet pesanan kita, kemudian
setelah disajikan dia berlalu dan berkeliling lagi sementara kami
dengan santainya dapat makan tanpa dikejar-kejar waktu. Piring
dikembalikan ketika dia lewat untuk kedua kalinya kira-kira jam 9 malam
ke atas atau bisa dikembalikan malam berikutnya.

   

Beberapa
waktu lalu dia lama tidak jualan, kami biasanya memahami kalo dia lagi
pulang kampung, tapi kali ini tidak seperti biasanya hampir sebulan dia
tidak muncul, suatu waktu kami penghuni kosan saling menanyakan pernah
liat Alfarizy lewat sini lagi apa nggak?, semua menjawab tidak. Apakah
karena BBM naik sehingga hasil jualannya tidak mencukupi untuk
kehidupan sehari-hari sehingga dia mencari pekerjaan lain, tapi itu
hanya analisa saya dan teman-teman kosan aja .

   

Syukurlah awal bulan lalu dia muai jualan lagi dilingkungan kami, Tidak mau kehilangan kesempatan untuk  berdialog,
sedikit mencontoh naluri wartawan, sudah ada pertanyaan yang disiapkan
dan ingin disampaikan. Setelah ketemu waktu yang pas terjadilah dialog
antara saya dan penjual nasi goreng tsb.

            

S : “Mhh, kemana aja Pak lama nggak Kelihatan”?
A : “Biasa , pulang kampung (tegal) ketemu keluarga”
S : “Lama bangett, pulangnya”?
A : “Iya kalo udahh deket keluarga jadi males bangett untuk ke Jakarta lagi, sambil
      nggarap sawah juga  disana” dengan tegarnya dia berkata.
S : “Kok masih pake kompor gas minyak nggak ganti pake Tabung Gas Elpiji,
      Minyak tanahkan susah dan mahal di Jakarta”

                        

A :“Nggak sempat dan mungkin juga tidak terdata, iya sekarang
      apa-apa serba mahal
      jadi hasil jualan yang didapat terasa beda dengan sebelumnya, makanya untuk
      tambahan pagi harinya juga berjualan strawberi di SD di daerah pejaten .
      Strawberi tersebut dikirim dari cianjur dan biasanya menjelang jam 10.00
      sudah habis, lumayan untuk menambah pendapatan. Siang harinya digunakan
      untuk istirahat atau membaca-baca majalah baru menjelang sore hari
      menyiapkan untuk jualan hingga larut malam.”

S : Kelilingnya daerah mana saja pak?
A : Alhamdulillah, saya hanya keliling di komplek dan lingkungan sekitar sini  dan
     menjelang pukul 11 biasanya sudah habis.
S : “Kok merknya hilang dan kenapa memilih Alfarizy”? Label Alfarizy digerobaknya
     sudah hilang,  pertanyaan yang ingin saya tanyakan sejak dulu.
A : "Sebelumnya berbagai label sudah saya pasang digerobak. 
       Pernah suatu waktu saya  pasang merk “Milisi Taliban” sampai
       akhirnya Alfarizy, itu nama seorang sahabat rasul".
S : "Apakah bapak mengenal dan pernah mendengar sejarah hidupnya".
A : "Pernah, tapi tidak begitu tahu secara mendetail dan dengan bangga
     Mengatakan kalo nanti saya punya anak laki-laki akan saya beri nama
     Salman Al-Farisi 1."
S : "Bapak mau saya berikan sirah cerita tentang sahabat rasul tersebut."
A : "Waah, Mau biar kalo lagi istirahat siang bisa sambil membaca,
      saya suka membaca  biasanya dipinjamin majalah sama teman"
S : "Oke kalo begitu besok saya bawakan ya Pak?
A : "Terima Kasih ya"

 

Dialog
malam itu bener-bener berkesan bagi saya, begitu kuatnya dia mengarungi
kehidupan, dengan keadaan serba susah, himpitan ekonomi yang hampir
dialamin sebagian besar penduduk negeri ini, tidak membuat dia
menyerah, semua itu dia lakukan untuk menafkahi keluarganya dengan
sesuatu yang halallanthoyiban. Dia terus tetap bertahan, berusaha dan
bekerja tak kenal lelah, tidak mengeluh menghadapi kenyataan, tegar
berpisah dengan keluarga yang begitu dicintainya,  jiwanya
haus akan ilmu itu dilihat dari semangatnya untuk membaca disela waktu
istirahatnya, semua dilakukan agar selalu tetap bertahan dan mengharap
Ridha Allah Swt.

Fabiayyiaalaa irobbikumaa tukazzibaan (Ar-Rahman)
 

   

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

   

   

   

Salam
Ardian Pram

   

Cat

      

1) Saat ini belum dikaruniai anak laki-laki dan memilki dua orang putri.   
S : Saya 
A : Alfarizy (Penjual Nasi Goreng) 

 

Kesokan
harinya diapun menyatakan sangat mengagumi kisah sahabat tersebut dan
sekarang lagi dibaca oleh teman-temannya yang lain. Ohh begitu mulianya
Rasul mewariskan kita ilmu dan para sahabat terbaiknya, semangat dan
tauladannya menyinari penduduk negeri hingga saat ini.    

Spirit Of Ramadhan

August 4th, 2008 by pram-axe26

Ramadhan Datang Alampun riang
Menyambut bulan yang berkah
Umat berdendang kumandang azan
Pertanda hati yang senang
Ooohh Hati yang gembira
Ooohh Penuh Suka Cita

      

Sebait
Lirik lagu nge-beat yang dilantunkan Tompi dengan riang dan senang
menggambarkan kalo suasana hati yang bergembira dan penuh suka cita
menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

   

Allah berfirman dalam Al-Quran mengenai perintah berpuasa :
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (QS
2:183)

 

Rasul dan para sahabatnya tak hentinya berdoa menyambut kedatangan ramadhan:
"Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Syaban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan."

  

Persiapan Menjelang Ramadhan

   

Sebentar
lagi bulan penuh berkah itu akan menghampiri kita, Rajab telah lewat
dan sekarang kita sudah memasuki bulan sya’ban, apasaja yang perlu
dipersiapkan :

 

  1. Memperbanyak Doa, sejak bulan rajab memohonlah kepada Allah agar disampaikan pada Syahrul Ramadhan.
  2. Memeperbanyak Aktivitas puasa di Bulan Sya’ban, sebagai latihan untuk memasuki bulan ramadhan
  3. Memperbanyak aktivitas tilawah Quran,
    sebagaimana yang diungkapkan Anas bin Malik bahwa para sahabat jika
    memasuki bulan Sya’ban, mereka segera mengambil mushaf dan membacanya.
  4. Segera mengqodho puasa,  baik
    yang dikarenakan haid, safar, sakit sehingga tidak bisa menunaikan
    ibadah puasa saat itu maka segerakan untuk mengqodhonya jangan sampai
    terlupakan karena ramadhan sudah di depan mata.
  5. Saling maaf memaafkan sesama muslim,
    sehingga dalam memasuki Ramadhan dosa kita dengan sesama sudah
    terhapuskan sehingga pada bulan Ramadhan hanya menyelesaikan dosa
    kepada Allah swt saja, dan pada saat hari raya Idul Fitri tiba , kita
    benar-benar berada dalam keadaan fitrah.
  6. Mengkaji fiqih yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, sehingga pelaksanaannya berjalan dengan baik berdasarkan pemahaman yang benar.

                   

Yupp
itulah spirit ramadhan telah menerangi hati kita sebelum waktunya,
bersyukurlah kita kepada Allah Swt yang telah menganugerahi kita
Ramadhan yang merupakan madrasah kita untuk mendewasakan diri, memohon
ampun, saling memaafkan, berempati terhadap orang lain, mengontrol
hawa-nafsu, semangat bersedaqah dan banyak lagi keutamaan ramadhan,
tentunya setiap pribadi muslim mempunyai kiat-kiat tersendiri untuk
menggapai keberkahan ramadhan  tersebut

 

Target
utama dari ibadah Ramadhan sebagaimana yang disebutkan pada QS
Al-Baqarah : 183 diatas adalah semakin mantapnya ketaqwaan kepada Allah
Swt. Sebagai wujud dari rasa gembira itulah, Ramadhan tahun ini tidak
boleh kita lewatkan begitu saja tanpa aktivitas yang dapat meningkatkan
ketaqwaan diri, keluarga dan masyarakat kita kepada Allah Swt.

 

 

      

Rujukan:
Artikel Menyambut Ramadhan Oleh Dra. Ustadzah Herlini Amran, MA. 2005-08-05
Lebih lengkap kilk                                      http://www.portalinfaq.org/g02×01_article_view.php?article_id=183

   

Salam

 

Ardian Pram

Remaja & Peran Orang Tua Dalam Keluarga

July 28th, 2008 by pram-axe26

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak dengan
dewasa. Menurut ahli psikologi Leulla Cole, masa remaja dibedakan
menjadi tiga tahap yaitu:

  1. Masa Remaja Awal (Usia 13 s/d 15 Tahun)
  2. Masa Remaja Pertengahan (Usia 15-18 Tahun)
  3. Masa Remaja Akhir (Usia 18-21 Tahun)

Masa
remaja awal disebut pula sebagai masalah pubertas. Pada masa ini,
remaja mulai mengalami perubahan seksual dan suka pada lawan jenis.
Perubahan hormonal yang terjadi pada mereka menyebabkan jiwanya sangat
sensitive dan labil, mereka lebih senang berkelompok antar teman-teman
sebaya dan sehaluan.

    

Bagi
remaja, penyesuaian dengan standar kelompok sangat penting, mereka
ingin memisahkan diri dari orang tuanya dengan maksud menemukan jati
dirinya (proses pencarian identitas ego-erikson). Pengaruh teman sebaya
sangat kuat, akibatnya, mereka akan mengikat diri dengan aturan-aturan
kelompok agar dapat diterima. Dalam kelompok ini remaja merasa
menemukan dukungan, kebebasan dari aturan yang dibuat oleh orang
dewasa, penerimaan dan saling ketergantungan.      

Dalam
usaha mencari identitas diri, remaja melakukan proses imitasi (meniru)
dan identifikasi (dorongan untuk menjadi sama dengan idolanya). Seiring
dengan pencarian identitas diri itulah, remaja sering terjebak dalam
dekadensi moral dan egoisme yang sangat membahayakan masa depan mereka
dan sekaligus membahayakan masa depan bangsa dan Negara. Kemerosotan Akhlaq dikalangan remaja dapat terjadi karena Faktor Internal, maupun Eksternal. 

Faktor Internal dapat terjadi karena:      

  1. Kurangnya pemahaman agama
  2. Pola asuh orang tua yang salah
  3. Kepribadian Indekuat (sikap impulsive, agresif atau cenderung destruktif)

Faktor
Eksternal, faktor lingkungan sangat kuat mempengaruhi mindset remaja,
selanjutnya dapat tercermin dari perilakunya. Dengan derasnya arus
transformasi budaya yang menyebabkan perubahan “Gaya Hidup” masyarakat
yang kurang baik. Dimana sebagian masyarakat kita mempunyai anggapan
supaya dikatakan modern maka harus mengikuti budaya/gaya hidup tertentu
padahal tidak bagus untuk perkembangan dirinya, antara lain.   

  1. Budaya
    Materialistic-hedonistic (orientasi keduniaan), yaitu orang yang
    terpacu semata-mata mencari materi dan menikamtinya secara berlebihan.
  2. Budaya permisivesness (orientasi serba boleh), terutama masalah hubungan seks bebas dan pornografi dan Narkoba.

Perkembangan
teknologi informasi (TI) yang sangat pesat saat ini, disamping
bermanfaat, tetapi juga dapat member mudharat, bisa membahayakan bagi
mental dan moral remaja yang belum memilki keimanan yang kuat dan
imunitas yang prima terhadap kemaksiatan. Pada kenyataannya TI didukung
mass media merupakan sarana yang efektif dalam membentuk mindset
remaja. Celakanya pembentukan mindset negative jauh lebih mudah dari
pada membangun mindset positif.

***

Dikutip dan diedit dari : Bulletin Jum’at TAFAKKUR Edisi 68 Th.XI/Rajab 1429 H/Juli 2008, Mesjid Baitul Ad’li.

***

Dalam
tulisan tersebut sepertinya hanya menuliskan perilaku remaja dan tidak
membahas peranan orang tua dan keluarga. Tertarik untuk mengomentarinya
dan mencoba menceritakan bagaimana pengalaman dan perubahan anak
laki-laki ketika menginjak usia remaja , sepertinya topik ini masih
hangat di kepala saya karena belum lama ini sempat diskusi sama teman
pengalaman masa remaja, kapan memasuki masa puber, rasa keingintahuan
yang tinggi, bagaimana jika saat itu bila mengikuti keinginan (obsesi),
sambil membandingkan keadaan sekarang dimana  sangat
mudah untuk mengakses informasi diberbagai tempat ,waktu dan keadaan.
Peranan orang tua dan keluarga adalah pilar pokok untuk membangun
pribadi agar tidak mudah terbawa arus perubahan yang bersifat negative.
Mendidik anak agar tidak terjerumus pada kebhatilan merupakan suatu
tantangan yang berat akan kita hadapi. Mustahil orang tua dapat
mengawasi  24 jam penuh dalam sehari, akhirnya sampai pada kesimpulan
Pendidikan Akhlaq dan Moral harus diajarkan sejak dini. Tentunya dalam
hal ini dikhususkan pada pengalaman kita sebagai laki-laki mungkin yang
perempuan bisa menceritakan pengalamannya. Tulisan ini semata-mata
untuk menambah ilmu dan wawasan, karena mau nggak mau suatu saat nanti
kita dan anak-anak akan mengalami dan menghadapi kondisi seperti ini.    

 To be continued …(masih ngumpulin resensi)

   

Salam

Ardian Pram                                    

Membangkitkan Lagi Hobby Fotografi

July 20th, 2008 by pram-axe26

Mengabadikan sebuah
momen, tempat dsb merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan ,
Fotografi sebagai sebuah kegiatan membutuhkan peralatan dan keahlian
agar mendapatkan karya yang memuaskan. Tapi bagi kita yang pemula tidak
perlu malu untuk selalu mencoba untuk mengabadikan sesuatu yang kita
anggap berkesan dan menyenangkan tersebut. Bisa jadi hasil yang kita
hasilkan kurang memuaskan tapi seiring dengan waktu pengalaman, insting
dan kebiasaan kelak skill itu akan kita dapatkan.

 

Teruslah
mencoba walaupun dengan kamera yang pas-pasan tetaplah hasil karya bisa
kita ciptakan, minimal kita bisa menyalurkan hobby positif ,

Why I Always Like Fotografi?

 

Saya sangat suka pemandangan alam, sehingga semua peristiwa dan apa yang terjadi di alam sebisa mungkin diabadikan,tapi sejak sudah
jarang jalan-jalan lagi dan berpetualang kegiatan Fotografi Alam juga
semakin jarang, saya mencoba mengalihkan untuk mempelajari fotografi  cahaya malam, jalan, gedung bertingkat, icon-icon menarik dan tentunya saja kerlap kerlip warna warni lampu malam.

 

Pernah
suatu saat punya ide konyol ama teman-teman sewaktu kerja di daerah
monas tepatnya di Medan Merdeka Barat. Tengah malam kami keluar,
jalanan sepi hanya sesekali mobil melintas dan sepertinya sudah tidak
ada penjagaan lagi dari polantas.Keinginan yang memang sebelumnya
pernah terpikirkan mau photo di Patung Kereta Kuda di Depan Gedung
Indosat. Patung Ini Memang Indah Ketika dilihat di Malam Hari Ketika
ada Air Mancurnya dan sorotan lampu yang berwarna warni menghiasi
setiap sisi. Cahaya malam dan kerlap-kerlipnya sangat menarik untuk di
abadikan.

 

Saya
ingin Diphoto saat seolah-olah menunggang kuda di patung tersebut ( I
Was here), mungkin itulah salah satu alasan mengapa kita mengabadikan
sesuatu momen,

 

wah
teman-teman sambil tertawa-tawa tapi tetap mendukung ide tersebut, biar
nggak sia-sia dan hasilnya bisa memuaskan, kami mencoba mengambil dari
berbagai sisi. Karena keterbatasan kamera dan setelah melihat hasilnya
niat tersebut kami urungkan. Dari situ saya sedikit memahami bahwa
memotret cahaya malam membutuhkan dan sangat memperhitungkan
pencahayaan/lighting. Tidak bisa denga serta merta kita memotret
seperti yang kita lakukan siang hari.

Tidak apa-apa keinginan
tersebut tidak terwujud, tapi dari situlah mulai muncul keinginan untuk
mencoba lagi hobby fotografi, bahwa sangat banyak objek yang bisa kita
abadikan. Selain Alam, Cahaya Malam, masih banyak lagi,

Yes I Like Fotografi

 

Salam

 

Ardian Pram

Sirah Sahabat : Salman Al Farisi Ra

July 20th, 2008 by pram-axe26

Selain Mukjizat Al-Quran yang diturunkan Allah kepadanya dan Sabda-Sabdanya (As Sunnah) yang keduanya dijadikan sebagai petunjuk bagi Umat manusia, Rasulullah juga telah membentuk dan mewariskan sahabat-sahabat mulia dengan karakteristik yang unik dan memiliki potensi, kecakapan yang berbeda-beda tetapi akhlak mulia menempatkan meraka pada jalur dan tujuan yang sama. Kita Kenal Para Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar Asshiddiq, Umar Bin Khattab, Ustman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, Hingga Umar Bin Abdul Aziz merupakan pemimpin-pemimpin dan penegak panji Islam setelah rasulullah wafat. Bagaimana kepemimpinan mereka, ketulusan dan keikhlasan mereka mungkin kita telah mendengar atau membacanya dan sangat menarik untuk diikuti.

Dalam Sirah Sahabat kali ini akan diceritakan sosok Salman Al Farisi Sahabat dari Persi (Iran), Seorang pemuda yang gagah lagi bergelimang harta tetapi kesungguhan, keikhlasan, kesabarannya dalam mencari kebenaran hakiki telah menempatkannya menjadi salah satu sahabat mulia.

******

PENCARI KEBENARAN

Marilah kita dekati majlisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang diceriterakannya!
“Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama “Ji”. Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluq Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.

Bapakku memiliki sebidang tanah, dan pada suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nashrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati: “Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!” Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serta tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nashrani dari mana asal-usul agama mereka. “Dari Syria”,ujar mereka. Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya: “Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka amat mengagumkanku. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama kita”. Kami pun bersoal-jawab melakukan diskusi dengan bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya diriku ….

Kepada orang-orang Nashrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai. Lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria.

Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Maka datanglah aku kepadanya, kuceriterakan keadaanku. Akhirnya tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan ajaran mereka dan belajar, Sayang uskup ini seorang yang tidak baik beragamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi. Kemudian uskup itu wafat ….dan mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Aku pun mencintainya demikian rupa, sehingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu dari padanya.

Dan tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku padanya: “Sebagai anda maklumi, telah dekat saat berlakunya taqdir Allah atas diri anda. Maka apakah yang harus kuperbuat, dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi. “Anakku!”, ujarya: “tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul”. Lalu tatkala ia wafat aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya itu. Kuceriterakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.

Kemudian tatkala ajalnya telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukkannyalah orang shalih yang tinggal di Nasibin. Aku datang kepadanya dan ku ceriterakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula. Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di ‘Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku berternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.
Kemudian dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakannya. Ujarnya: “Anakku.’ Tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. la nanti akan hijrah he suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia, la mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan shadaqah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya’:

Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, maka kataku kepada mereka: “Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?” “Baiklah”, ujar mereka. Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang yahudi. Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset. Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang yahudi Bani Quraizhah yang membeliku pula daripadanya. Aku dibawanya ke Madinah, dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.

Aku tinggal bersama yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani ‘Amar bin ‘Auf di Quba. Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku lagi duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang yahudi saudara sepupunya yang mengatakan padanya:

“Bani Qilah celaka! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku-pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan kataku kepada orang tadi: “Apa kata anda?” Ada berita apakah?” Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya: “Apa urusanmu dengan ini, ayoh kembali ke pekerjaanmu!” Maka aku pun kembalilah bekerja …

Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu kataku kepadanya: “Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedeqah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, maka menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini”. Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya.
“Makanlah dengan nama Allah”. sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para shahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu. “Nah, demi Allah!” kataku dalam hati, inilah satu dari tanda-tandanya … bahwa ia tak mau memakan harta sedeqah’:

Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil membawa makanan, serta kataku kepadanya: “Kulihat tuan tak hendak makan sedeqah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah”, lalu kutaruh makanan di hadapannya. Maka sabdanya kepada shahabatnya: ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah ! ‘ Dan beliaupun turut makan bersama mereka. “Demi Allah’: kataku dalam hati, inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah ‘:

Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian kupergi mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kutemui beliau di Baqi’, sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh shahabat-shahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju.Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihatnya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, maka disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap kenabian sebagai disebutkan oleh pendeta dulu. Melihat itu aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceriterakan kisahku kepadanya sebagai yang telah kuceriterakan tadi.

Kemudian aku masuk Islam, dan perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku:’Mintalah pada majihanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan.” Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh para shahabat untuk membantuku dalam soal keuangan.

Demikianlah aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam perang Khandaq dan peperangan lainnya. Dengan kalimat-kalimat yang jelas dan manis, Salman radhiyallahu ‘anhu menceriterakan kepada kita usaha keras dan perjuangan besar serta mulia untuk mencari hakikat keagamaan, yang akhirnya dapat sampai kepada Allah Ta’ala dan membekas sebagai jalan hidup yang harus ditempuhnya ….

*****

AHLI STRATEGI & SAKSI KEJAYAAN ISLAM

Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya segala kemampuan serta digalinya bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, hingga bermunculanlah filosof-filosof Islam, dokter-dokter Islam, ahli-ahli falak Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam .

Ternyata bahwa pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi satu Agama. Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan beliau telah menerima janji yang benar dari Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui. Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikannyalah dengan mata kepala panji-panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya. Salman radhiyallahu ‘anhu sendiri turut menvaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu. Peristiwa itu terjadi waktu perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima Hijrah dan dirinya yang menjadi arsitek strategi perang tersebut.

Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Kaum Muslimin, serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan vang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini.
Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang-nya dari dalam — yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimim sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut:

Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah nakh sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. (Q.S. 33 Al-Ahzab:l0)

Dua puluh empat ribu orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Agama serta para shahabatnya. Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari fihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan.

Kaum Muslimin menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?.
Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Itulah dia Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu!’ Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah, dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga layaknya. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negerinya Persi, Salman radhiyallahu ‘anhu telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atau usul Salman radhiyallahu ‘anhu tersebut.

Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota. Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta’ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka … dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit …

Sewaktu menggali parit, Salman radhiyallahu ‘anhu tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman radhiyallahu ‘anhu bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar. Salman radhiyallahu ‘anhu seorang yang berperawakan kukuh dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka. Salman radhiyallahu ‘anhu pergi mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan minta idzin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pergi bersama Salman radhiyallahu ‘anhu untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi. Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta sebuah tembilang dan menyuruh para shahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti….

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi. “Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah”, kata Salman radhiyallahu ‘anhu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan takbir, sabdanya:

Allah Maha Besar! Ahu telah dikaruniai Kunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir sabdanya:
Allah Maha Besar! Ahu telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya.

Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya amat nyala dan terang temarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh kaum Muslimin. Lalu diceritakanlah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan’a, begitu pun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin pun serentak berseru:
Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya …. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.

Salman radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang mengajukan saran untuk membuat parit. Dan dia pulalah penemu batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia dan ramalan-ramalan ghaib, yakni ketika ia meminta tolong kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Ia berdiri di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan cahaya dan mendengar berita gembira itu. Dan dia masih hidup ketika ramalan itu menjadi kenyataan, dilihat bahkan dialami dan dirasakannya sendiri. Dilihatnya kota-kota di Persi dan Romawi, dan dilihatnya mahligai istana di Shan’a, di Mesir, di Syria dan di Irak. Pendeknya disaksikan dengan mata kepalanya bahwa seluruh permukaan bumi seakan berguncang keras, karena seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara-menara tinggi di setiap pelosok, memancarkan sinar hidayah Allah.

*****

MANDIRI, INTELGENSIA TINGGI & BERSAHAJA

Corak manusia ulung manakah orang ini? Dan keunggulan besar manakah yang mendesak jiwanya yang agung dan melecut kemauannya yang keras untuk mengatasi segala kesulitan dan membuatnya mungkin barang yang kelihatan mustahil? Kehausan dan kegandrungan terhadap kebenaran manakah yang telah menyebabkan pemiliknya rela meninggalkan kampung halaman berikut harta benda dan segala macam kesenangan, lalu pergi menempuh daerah yang belum dikenal — dengan segala halangan dan beban penderitaan — pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negeri ke negeri lain, tak kenal letih atau lelah, di samping tak lupa beribadah secara tekun …?

Sementara pandangannya yang tajam selalu mengawasi manusia, menyelidiki kehidupan dan aliran mereka yang berbeda, sedang tujuannya yang utama tak pernah beranjak dari semula, yang tiada lain hanya mencari kebenaran. Begitu pun pengurbanan mulia yang dibaktikannya demi mencapai hidayah Allah, sampai ia diperjual belikan sebagai budak belian …Dan akhirnya ia diberi Allah ganjaran setimpal hingga dipertemukan dengan al-Haq dan dipersuakan dengan Rasul-Nya, lalu dikaruniai usia lanjut, hingga ia dapat menyaksikan dengan kedua matanya bagaimana panji-panji Allah berkibaran di seluruh pelosok dunia, sementara ummat Islam mengisi ruangan dan sudut-sudutnya dengan hidayah dan petunjuk Allah, dengan kemakmuran dan keadilan.. .!

Bagaimana akhir kesudahan yang dapat kita harapkan dari seorang tokoh yang tulus hati dan keras kemauannya demikian rupa? Sungguh, keislaman Salman radhiyallahu ‘anhu adalah keislamannya orang-orang utama dan taqwa. Dan dalam kecerdasan, kesahajaan dan kebebasan dari pengaruh dunia, maka keadaannya mirip sekali dengan Umar bin Khatthab.

Ia pernah tinggal bersama Abu Darda di sebuah rumah beberapa hari lamanya. Sedang kebiasaan Abu Darda beribadah di waktu malam dan shaum di waktu siang. Salman radhiyallahu ‘anhu melarangnya berlebih-lebihan dalam beribadah seperti itu. Pada suatu hari Salman radhiyallahu ‘anhu bermaksud hendak mematahkan niat Abu Darda untuk shaum sunnat esok hari. Dia menyalahkannya: “Apakah engkau hendak melarangku shaum dan shalat karena Allah?” Maka jawab Salman radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Di samping engkau shaum, berbukalah; dan di samping melakukan shalat, tidurlah!”

Peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah, maka sabdanya: Sungguh Salman radhiyallahu ‘anhu telah dipenuhi dengan ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sering memuji kecerdasan Salman radhiyallahu ‘anhu serta ketinggian ilmunya, sebagaimana beliau memuji Agama dan budi pekertinya yang luhur. Di waktu perang Khandaq, kaum Anshar sama berdiri dan berkata: “Salman radhiyallahu ‘anhu dari golongan kami”. Bangkitlah pula kaum Muhajirin, kata mereka: “Tidak, ia dari golongan kami!” Mereka pun dipanggil oleh Rasurullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sabdanya: Salman adalah golongan kami, ahlul Bait. Dan memang selayaknyalah jika Salman radhiyallahu ‘anhu mendapat kehormatan seperti itu …!
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menggelari Salman radhiyallahu ‘anhu dengan “Luqmanul Hakim”. Dan sewaktu ditanya mengenai Salman, yang ketika itu telah wafat, maka jawabnya: “Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang akan dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering”.

Dalam kalbu para shahabat umumnya, pribadii Salman radhiyallahu ‘anhu telah mendapat kedudukan mulia dan derajat utama. Di masa pemerintahan Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu ia datang berkunjung ke Madinah. Maka Umar melakukan penyambutan yang setahu kita belum penah dilakukannya kepada siapa pun juga. Dikumpulkannya para shahabat dan mengajak mereka: “Marilah kita pergi menyambut Salman radhiyallahu ‘anhu!” Lalu ia keluar bersama mereka menuju pinggiran kota Madinah untuk menyambutnya …

Semenjak bertemu dengan Rasulullah dan iman kepadanya, Salman radhiyallahu ‘anhu hidup sebagai seorang Muslim yang merdeka, sebagai pejuang dan selalu berbakti. Ia pun mengalami kehidupan masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu; kemudian di masa Amirul Mu’minin Umar radhiyallahu ‘anhu; lalu di masa Khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu, di waktu mana ia kembali ke hadlirat Tuhannya.

Di tahun-tahun kejayaan ummat Islam, panji-panji Islam telah berkibar di seluruh penjuru, harta benda yang tak sedikit jumlahnya mengalir ke Madinah sebagai pusat pemerintahan baik sebagai upeti ataupun pajak untuk kemudian diatur pembagiannya menurut ketentuan Islam, hingga negara mampu memberikan gaji dan tunjangan tetap. Sebagai akibatnya banyaklah timbul masalah pertanggungjawaban secara hukum mengenai perimbangan dan cara pembagian itu, hingga pekerjaan pun bertumpuk dan jabatan tambah meningkat.

Maka dalam gundukan harta negara yang berlimpah ruah itu, di manakah kita dapat menemukan Salman radhiyallahu ‘anhu? Di manakah kita dapat menjumpainya di saat kekayaan dan kejayaan, kesenangan dan kemakmuran itu …?

Bukalah mata anda dengan baik! Tampaklah oleh anda seorang tua berwibawa duduk di sana di bawah naungan pohon, sedang asyik memanfaatkan sisa waktunya di samping berbakti untuk negara, menganyam dan menjalin daun kurma untuk dijadikan bakul atau keranjang.

Nah, itulah dia Salman radhiyallahu ‘anhu Perhatikanlah lagi dengan cermat! Lihatlah kainnya yang pendek, karena amat pendeknya sampai terbuka kedua lututnya. Padahal ia seorang tua yang berwibawa, mampu dan tidak berkekurangan. Tunjangan yang diperolehnya tidak sedikit, antara empat sampai enam ribu setahun. Tapi semua itu disumbangkannya habis, satu dirham pun tak diambil untuk dirinya. Katanya: “Untuk bahannya kubeli daun satu dirham, lalu kuperbuat dan kujual tiga dirham.

Yang satu dirham kuambil untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluargaku, sedang satu dirham sisanya untuk shadaqah. Seandainya Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu melarangku berbuat demikian, sekali-kali tiadalah akan kuhentikan!”

Lalu bagaimana wahai ummat Rasulullah? Betapa wahai peri kemanusiaan, di mana saja dan kapan saja? Ketika mendengar sebagian shahabat dan kehidupannya yang amat bersahaja, seperti Abu Bakar, Umar, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhum dan lain-lain; sebagian kita menyangka bahwa itu disebabkan suasana lingkungan padang pasir, di mana seorang Arab hanya dapat menutupi keperluan dirinya secara bersahaja. Tetapi sekarang kita berhadapan dengan seorang putera Persi, suatu negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan serta hidup boros, sedang ia bukan dari golongan miskin atau bawahan, tapi dari golongan berpunya dan kelas tinggi. Kenapa ia sekarang menolak harta, kekayaan dan kesenangan; bertahan dengan kehidupan bersahaja, tiada lebih dari satu dirham tiap harinya, yang diperoleh dari hasil jerih payahnya sendiri.. .? kenapa ditolaknya pangkat dan tak bersedia menerimanya?

Katanya: “Seandainya kamu masih mampu makan tanah asal tak membawahi dua orang manusia –, maka lakukanlah!” Kenapa ia menolak pangkat dan jabatan, kecuali jika mengepalai sepasukan tentara yang pergi menuju medan perang? Atau dalam suasana tiada seorang pun yang mampu memikul tanggung jawab kecuali dia, hingga terpaksa ia melakukannya dengan hati murung dan jiwa merintih? Lalu kenapa ketika memegang jabatan yang mesti dipikulnya, ia tidak mau menerima tunjangan yang diberikan padanya secara halal?

Diriwayatkan eleh Hisyam bin Hisan dari Hasan: “Tunjangan Salman radhiyallahu ‘anhu sebanyak lima ribu setahun, (gambaran kesederhanaannya) ketika ia berpidato di hadapan tiga puluh ribu orang separuh baju luarnya (aba’ah) dijadikan alas duduknya dan separoh lagi menutupi badannya. Jika tunjangan keluar, maka dibagi-bagikannya sampai habis, sedang untuk nafqahnya dari hasil usaha kedua tangannya”.

Kenapa ia melakukan perbuatan seperti itu dan amat zuhud kepada dunia, padahal ia seorang putera Persi yang biasa tenggelam dalam kesenangan dan dipengaruhi arus kemajuan? Marilah kita dengar jawaban yang diberikannya ketika berada di atas pembaringan menjelang ajalnya, sewaktu ruhnya yang mulia telah bersiap-siap untuk kembali menemui Tuhannya Yang Maha Tinggi lagi Maha Pengasih.

Sa’ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya, lalu Salman radhiyallahu ‘anhu menangis. “Apa yang anda tangiskan, wahai Abu Abdillah”,’) tanya Sa’ad, “padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dalam keadaan ridla kepada anda?” “Demi Allah, ujar Salman radhiyallahu ‘anhu, “daku menangis bukanlah karena takut mati ataupun mengharap kemewahan dunia, hanya Rasulullah telah menyampaikan suatu pesan kepada kita, sabdanya:
Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara, padahal harta milikku begini banyaknya”
Kata Sa’ad: “Saya perhatikan, tak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring dan sebuah baskom. Lalu kataku padanya: “Wahai Abu Abdillah, berilah kami suatu pesan yang akan kami ingat selalu darimu!” Maka ujamya: “Wahai Sa’ad!

Ingatlah Allah di kala dukamu, sedang kau derita.

Dan pada pada putusanmu jika kamu menghukumi.

Dan pada saat tanganmu melakukan pembagian”.

Rupanya inilah yang telah mengisi kalbu Salman radhiyallahu ‘anhu mengenai kekayaan dan kepuasan. Ia telah memenuhinya dengan zuhud terhadap dunia dan segala harta, pangkat dengan pengaruhnya; yaitu pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya dan kepada semua shahabatnya, agar mereha tidak dikuasai oleh dunia dan tidak mengambil bagian daripadanya, kecuali sekedar bekal seorang pengendara. Salman radhiyallahu ‘anhu telah memenuhi pesan itu sebaik-baiknya, namun air matanya masih jatuh berderai ketika ruhnya telah siap untuk berangkat; khawatir kalau-kalau ia telah melampaui batas yang ditetapkan. Tak terdapat di ruangannya kecuali sebuah piring wadah makannya dan sebuah baskom untuk tempat minum dan wudlu .:., tetapi walau demikian ia menganggap dirinya telah berlaku boros ….

Pada hari-hari ia bertugas sebagai Amir atau kepala daerah di Madain, keadaannya tak sedikit pun berubah. Sebagai telah kita ketahui, ia menolak untuk menerima gaji sebagai amir, satu dirham sekalipun. Ia tetap mengambil nafkahnya dari hasil menganyam daun kurma, sedang pakaiannya tidak lebih dari sehelai baju luar, dalam kesederhanaan dan kesahajaannya tak berbeda dengan baju usangnya.

Pada suatu hari, ketika sedang berjalan di suatu jalan raya, ia didatangi seorang laki-laki dari Syria yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat, hingga melelahkannya. Demi dilihat olehnya seorang laki-laki yang tampak sebagai orang biasa dan dari golongan tak berpunya, terpikirlah hendak menyuruh laki-laki itu membawa buah-buahan dengan diberi imbalan atas jerih payahnya bila telah sampai ke tempat tujuan. Ia memberi isyarat supaya datang kepadanya, dan Salman radhiyallahu ‘anhu menurut dengan patuh. “Tolong bawakan barangku ini!”, kata orang dari Syria itu. Maka barang itu pun dipikullah oleh Salman radhiyallahu ‘anhu, lalu berdua mereka berjalan bersama-sama.

Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Salman radhiyallahu ‘anhu memberi salam kepada mereka, yang dijawabnya sambil berhenti: “Juga kepada amir, kami ucapkan salam” “Juga kepada amir?” Amir mana yang mereka maksudkan?” tanya orang Syria itu dalam hati. Keheranannya kian bertambah ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul oleh Salman radhiyallahu ‘anhu dengan maksud hendak menggantikannya, kata mereka: “Berikanlah kepada kami wahai amir!”

Sekarang mengertilah orang Syria itu bahwa kulinya tiada lain Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, amir dari kota Madain. Orang itu pun menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf bagai mengalir dari bibirnya. Ia mendekat hendak menarik beban itu dari tangannya, tetapi Salman radhiyallahu ‘anhu menolak, dan berkata sambil menggelengkan kepala: “Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu!

Suatu ketika Salman radhiyallahu ‘anhu pernah ditanyai orang: Apa sebabnya anda tidak menyukai jabatan sebagai amir? Jawabnya: “Karena manis waktu memegangnya tapi pahit waktu melepaskannya!”

Pada waktu yang lain, seorang shahabat memasuki rumah Salman radhiyallahu ‘anhu, didapatinya ia sedang duduk menggodok tepung, maka tanya shahabat itu: Ke mana pelayan? Ujarnya: “Saya suruh untuk suatu keperluan, maka saya tak ingin ia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus”

Apa sebenarnya yang kita sebut “rumah” itu? Baiklah kita ceritakan bagaimana keadaan rumah itu yang sebenamya. Ketika hendak mendirikan bangunan yang berlebihan disebut sebagai “rumah” itu, Salman radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada tukangnya: “Bagaimana corak rumah yang hendak anda dirikan?” Kebetulan tukang bangunan ini seorang ‘arif bijaksana, mengetahui kesederhanaan Salman radhiyallahu ‘anhu dan sifatnya yang tak suka bermewah mewah. Maka ujarnya: “Jangan anda khawatir! rumah itu merupakan bangunan yang dapat digunakan bernaung di waktu panas dan tempat berteduh di waktu hujan. Andainya anda berdiri, maka kepala anda akan sampai pada langit-langitnya; dan jika anda berbaring, maka kaki anda akan terantuk pada dindingnya”. “Benar”, ujar Salman radhiyallahu ‘anhu, “seperti itulah seharusnya rumah yang akan anda bangun!”

Tak satu pun barang berharga dalam kehidupan dunia ini yang digemari atau diutamakan oleh Salman radhiyallahu ‘anhu sedikit pun, kecuali suatu barang yang memang amat diharapkan dan dipentingkannya, bahkan telah dititipkan kepada isterinya untuk disimpan di tempat yang tersembunyi dan aman.

Ketika dalam sakit yang membawa ajalnya, yaitu pada pagi hari kepergiannya, dipanggillah isterinya untuk mengambil titipannya dahulu. Kiranya hanyalah seikat kesturi yang diperolehnya waktu pembebasan Jalula dahulu. Barang itu sengaja disimpan untuk wangi-wangian di hari wafatnya. Kemudian sang isteri disuruhnya mengambil secangkir air, ditaburinya dengan kesturi yang dikacau dengan tangannya, lalu kata Salman radhiyallahu ‘anhu kepada isterinya: “Percikkanlah air ini ke sekelilingku … Sekarang telah hadir di hadapanku makhluq Allah’) yang tiada dapat makan, hanyalah gemar wangi-wangian Setelah selesai, ia berkata kepada isterinya: “Tutupkanlah pintu dan turunlah!” Perintah itu pun diturut oleh isterinya.

Dan tak lama antaranya isterinya kembali masuk, didapatinya ruh yang beroleh barkah telah meninggalkan dunia dan berpisah dari jasadnya … Ia telah mencapai alam tinggi, dibawa terbang oleh sayap kerinduan; rindu memenuhi janjinya, untuk bertemu lagi dengan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan dengan kedua shahabatnya Abu Bakar dan Umar, serta tokoh-tolroh mulia lainnya dari golongan syuhada dan orang-orang utama ….

Salman radhiyallahu ‘anhu …. Lamalah sudah terobati hati rindunya Terasa puas, hapus haus hilang dahaga. Semoga Ridha dan Rahmat Allah menyertainya.
********************END****************************

Dikutip dari :  http://ainuamri.wordpress.com, www.alsofwah.or.id, Buku 60 Karakteristik Sahabat Nabi

NB:

Begitulah kisah hidup sahabat mulia Salman Al Farisi, kisahnya saya baca di buku “60 Karakteristik Sahabat Nabi” mungkin sudah 8 tahun yang lalu pada kesempatan kali ini sengaja untuk mengangkatnya kembali dan semoga bermanfaat khususnya bagi diri sendiri dan bagi siapa yang membacanya.

Salam

Ardian Pram

Blog Pilihanmu?

July 18th, 2008 by pram-axe26

Blog Pilihanmu?

Setiap orang memilki alasan tersendiri
dalam memiliki sebuah Web Blog yang ada seperti Blogspot, Blog di Friendster,
Multiply, Wordpress dll, ada yang beralasan  memilih Friendster karena simple orang yang
awampun bisa apalagi sudah memiliki accaunt di FS, terus ada yang bilang senang
ngeblog di wordpress pengelompakannya enak dan fleksibel, ada juga yang bilang
gua punya multiply tapi itu cuma buat download lagu doank. Ada yang memilih
Blogspot karena itu blog pertama yang dibuatnya. FS dan Multiply kurang
fleksibel kalo mau comment kudu login dulu dan komentar-komentar lainnya. Ya
ngeblog sudah menjadi trend tersendiri beberapa tahun belakangan makanya para
blogger sangat marah dan menentang ketika ada pendapat yang mengatakan blogger
sama dengan cracker, sebuah generalisasi yang tak beralasan dan tidak melihat
fakta sebenarnya.

Kembali lagi ke topik awal, Apa
Blog pilihanmu?
Kalau saya pernah memilki dan
mencoba keempat blog tersebut diatas dengan urutan dan alasan:

Blogspot

Pertama kenal blogspot dari
status message teman-teman di Yahoo Messenger (YM), http://namamereka.blogspot.com, saat
itu booming blog khususnya teman-teman disaat awal-awal ngantor setelah lulus
kuliah. Seakan tak mau ketinggalan & takut kalah keren dengan yang lain
akhirnya saya membuat sebuah blog dengan alamat http://pramaxe.blogspot.com dan membuat
blog sepertinya tidak sesulit membuat website.

Saat itu tidak terlalu
memperhatiin content, yang didahulukan gimana biar blog kita lain dari yang
lain, awal-awal berkembangnya blog input image atau customize theme tidak
semudah seperti sekarang, sebenarnya disitulah terasa tertantang untuk mengubah
tampilan blog dan menambah sendiri feature yang anggap menarik sehingga mau
nggak mau harus mempelajari script html, css dll yang dibutuhkan.

Baru setelah itu mulai mengisi content
tulisan, beberapa tulisan sempat di upload tapi masih banyak copy paste dari tulisan
orang lain dengan tetap mencantumkan sumber dan penulisnya, dan ada beberapa
tulisan yang dibuat sendiri, pada prinsipinya menulis sangat menyenangkan tapi kadang
malas dan merasa nggak bagus, jadi ide yang ada di kepala terbuang dan suatu
saat untuk menuliskannya sudah tidak mood lagi. Akhirnya blog saya pun nggak
pernah diisi lagi, and lama kelamaan semakin malas untuk menulis dan suatu
waktu  mengecek alamat blog tersebut
dengan maksud untuk membaca kembali tulisan yang pernah dibuat, ternyata masih
ada and sangat menyenangkan ketika membayangkan kita menulis tulisan tersebut .
Dilain kesempatan sewaktu di cek lagi sudah hilang, Harus ada aktivasi kembali
dan harus memiliki account GMail. Karena lupa account lama dan memang udah
malas menulis akhirnya ku pasrahkan blog tersebut.

 Multiply

Sebenarnya saat masih aktiv di
Blogspot saya juga mencoba Ngeblog di Multiply, sebenarnya Multiply tidak
mengkhususkan pada blog doank dan merupakan situs jaringan teman like FS tetapi
memilki feature-feature sharing yang lebih bagus.

Awal tertarik mencoba multiply
karena rata-rata teman perjalanan banyak yang mengupload photo di Multiply.
Saat itu memang lagi sering-seringnya jalan-jalan, Yup I Like Adventure dan kecendrungannya
lagi kalo kita menyukai petualangan otomatis mencintai Fotografi. Dengan modal
Kamera Digital Pocket merk Kodak yang saya beli second dari seorang teman
banyak jepretan yang dihasilkan. Walaupun masih sangat amatir dalam dunia
Fotografi and jiwa narsis masih terlalu mendominasi akhirnya banyak  diri sendiri menjadi objek. Tapi rasanya
sangat berkesan dan menyenangkan terutama pada saat Pendakian Mahameru.

Untuk menyimpan dan takut hilang  akhirnya photo-photo tersebut Upload di http://pramaxe.multiply.com
dan sepertinya Multiply sangat cocok sebagai Photo Album Digital dengan frame
yang bermacam-macam seperti menambah keindahan photo-photo tersebut dan untuk
menguatkannya lagi kita bisa menambahkan judul or caption berupa tulisan agar
kita ingat tentang dimana, momen, mengapa, kapan kira-kira kita mengabadikan
sebuah photo. Sepertinya tak henti-hentinya untuk hunting photo terus upload di
multiply. Sejak sudah jarang jalan-jalan lagi dan berpetualang kegiatan
Fotografi  juga semakin jarang dilakukan,
Tapi belakangan ini hobby untuk menulis mulai muncul lagi tidak salahnya
mencoba blog di Multiply. Sepertinya multiply sangat cocok dan disukai para
petualang buat meng-upload photo sekaligus menceritakan catper (Catatan
Perjalanan) tapi tidak hanya terbatas dengan itu banyak orang yang register di
Multiply karena menyediakan sharing Music, Video & I Like Download From
This Site, berhubung dianggap mendukung dan meyuburkan pembajakan akhirnya
feature ini ditutup.

Wordpress

Terlintas dalam pikiran saya
wordpress identik dengan blognya anak-anak Teknologi Informasi dan Ilmu
Pengetahuan, karena berdasarkan pengalaman mengikuti forum-forum and searching hal-hal
yang berkaitan dengan IT dan Ilmu Pengetahuan banyak yang ngeblog di wordpress,
walaupun setelah dilihat and diperhatiin tidak sedikit isu/content selain IT
yang juga memilih wordpress. Pendapat saya ini sempat juga dikemukakan dan
diamin-in oleh seorang teman yang kebetulan memilih blog di wordpress. Karena ada
keinginan dan berbagi pengalaman yang berkaitan dengan IT akhirnya saya juga
membuat blog dengan alamat sama http://pramaxe.wordpress.com.

Beberapa tulisan sudah sempat mau
naik tayang topiknya seputar telekomunikasi selluler, terus mengomentari
tulisan di Tabloid tempo tentang Keamanan Metode SMS Banking Mandiri, dll. Tapi
karena merasa tulisan tersebut biasa-biasa saja, kalau meminjam istilah
teman-teman “Cupu” akhirnya nggak jadi naik tayang dan kebetulan belakangan
juga sibuk dengan kerjaan. Kata teman-teman memang pikiran seperti itu ada tapi
menyarankan cobalah tetap menuliskannya dan akan bermanfaat bagi orang yang
membutuhkan. Sampai saat ini blog tersebut nganggur dan masih kosong.

Friendster

Entah mengapa  kurang suka ngeblog di FS, nggak suka dengan
defaultnya dan awal-awal sedikit susah untuk dimodifikasi dan fiturnya terbatas
walaupun pada akhirnya saya coba juga ngeblog di FS. Ada suatu keuntungan
menulis blog di FS, FS sebenarnya termasuk kategori situs pertemanan kemudian sesuai
perkembangan dan mungkin sudah dianggap suatu kebutuhan maka dilengkapi dengan
blog. Bagi kita yang baru mengenal internet mungkin FS salah satu situs yang kudu wajib didatangi (Nggak
gaul loe kalo belum punya FS) dan disitulah kita banyak menemukan teman, baik
teman lama maupun teman baru. Dengan kata lain banyak orang yang memilki accaunt
FS dan jika sudah memilkinya orang dengan mudah juga dapat membuat blog. Karena
banyak orang yang menggunakannya dan cara kerjanya yang memberi informasi
update terbaru ke email seluruh teman kita maka dari segi Publikasi FS sangat
efektif, sama seperti situs pertemanan lainnya tapi FS menurut saya yang paling
populer saat ini.

*****

Nah sekarang gantian, Apa Saja Blog
Pilihanmu?

Apa alasan teman-teman memilihnya?
 

Thanks Untuk Berbagi

Salam

Ardian Pram

Effect Ekspektasi

July 17th, 2008 by pram-axe26

Dari diskusi and dialog panjang
tidak terasa sampai tengah malam dengan Rian teman sekosan beberapa waktu yang
lalu, saya coba untuk menuliskan tentang
komentar Rian tentang pertama  bahaya dan
efek dari sebuah Ekspektasi dan pernyataannya yang menyatakan pengalaman adalah
pelajaran yang paling berharga. Yes Right saya setuju dengan kedua pernyataan
diatas . Dia mencoba mengungkapkan pengalaman pribadi begitupun juga saya,
tentang  bagaimana jika ekspektasi kita
tentang sesuatu tidak terpenuhi dan juga akibat yang akan ditimbulkan, kadang kita tidak mau mengubah pandangan kita
tentang sesuatu tetapi setelah dipikir-pikir tidak ada manfaatnya berbuat
seperti itu yang kita perlukan kembali untuk mengevaluasi tentang baik buruknya
berpandangan seperti itu buat kepribadian diri sendiri.

Dalam dialog itu kami juga
melihat contoh fenomena ekspektasi dalam kehidupan bermasyarakat terhadap
sesuatu yang diharapkan. Ekspektasi merupakan suatu nilai, capaian, keinginan,
pandangan yang diharapkan oleh kita terhadap sesuatu yaitu salah satunya, Fenomena
Poligami Aa’ Gym

Saya mulai mendengar ceramah Aa’ Gym semasa
di asrama lewat Radio Ramaco selepas sholat subuh. Lewat tutur katanya yang
lembut dan menyejukkan sehingga banyak
orang menyukai konsep Manajemen Qalbu yang disampaikannya. Dari waktu ke waktu
popularitasnya semakin meningkat dan mulai mengisi ceramah dimana-mana sehingga
jadwalnya padat dan susah mendatangkannya
untuk mengisi acara. Tetapi saat itu Aa Gym mempunyai jadwal tetap tiap
bulannya untuk mengisi siraman rohani di Mesjid Al-Azhar Kebayoran Baru dan
Mesjid Istiqlal dalam tajuk Indahnya Kebersamaan yang disiarkan langsung oleh
salah-satu TV swasta.

Kita sangat bangga saat itu banyak sekali
jamaah yang memadati mesjid dan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan
waktu terasa sangat cepat ketika mendengarkannya memberikan Tausyiah. Selesai
acara orang berebut untuk menyalaminya dan sayapun begitu sempat sekali
menyalaminya. Dilain waktu saat mengikuti Tausyiahnya saya tidak berusaha untuk
menyalaminya lagi , kareana alasan dia sudah kelelahan dan sepertinya dia tak
mungkin menolak orang yang ingin bersalaman dan memeluknya padahal wajah lelah
dan letih terpancar dari wajahnya, tetapi alasan utama mengapa saya tidak
menyalaminya lagi karena takut taqlid terhadap seseorang (pengkultusan
individu) padahal dirinya tidak pernah mengharapkan itu. Kekhawatiran muncul
melihat fenomena saat itu, bagaimana
suatu saat nanti harapan dan pandangan masyarakat terhadap dirinya terlalu tinggi
sehingga muncul pengkultusan individu atau bagaimana suatu saat nanti jika
dirinya tidak sesuai yang diharapkan dan diinginkan banyak orang.

Dua tahun yang lalu Aa’ Gym mengambil
keputusan yang dihalalkan oleh Agama yaitu Poligami, Publikpun tersentak, media
massa dan elektronik menjadikannya topik utama dan dimasyarakat peristiwa itu
menjadi buah bibir seolah tidak percaya, ada ungkapan kecewa, marah, dan caci
maki terhadap dirinya bahkan isunya ditanggapi dan direspon oleh seoarang menteri dan kepala Negara republic ini.
Tapi tidak sedikt pula orang yang respect dan menghormati keputusan yang
diambilnya.

Aa’ Gym tau betul dampak yang akan muncul
akibat keputusannya seperti ungkapannya yang disampaiakn di majlis subuh di
Mesjid Pesanternnya dan saya sempat membacanya melalui imel. Dalam tulisan dia
menjelaskan bahwa dia tau betul apa akibat yang akan timbul dari perbuatannya
itu. Satu yang masih teringat dipikiran saya pernyataannya tentang: bagi
saudara-saudari seiman sekalian yang selama ini mengaguminya karena dirinya
pasti akan kecewa, dan mengakui dirinya
sebagai manusia biasa Hanya Allah SWT yang maha sempurna.

***

Tapi dilain sisi kita juga melihat tingkah
laku dewan yang terhormat, seakan-akan tidak pernah berhenti dan belajar dari
kejadian-kejadian sebelumnya., melakukan perbuatan asusila yang sangat tidak
terpuji. Itu yang hanya kita tahu dan terungkap di media massa dan elektronika
berapa banyak lagi yang tidak diketahui??

***

 

***

Thanks to Rian yang telah berbagi pengalaman tentang
ekspektasi dan berdiskusi banyak hal malam itu tentang pengalamam dan
kehidupan.

Dari situlah kita bisa belajar mengambil suatu makna dan pelajaran mana yang
terbaik dari suatu peristiwa dan kejadian. Terus bagaimana kita bertindak dan
mengambil keputusan dari Ekspektasi dan Harapan yang kita Rencanakan dan
Ekspektasi kita tentang seseorang tidak sesuai harapan.

Kita Hanya Bisa Merencanakan Tapi Tuhanlah
yang menentukan, Satu lagi yang menjadi kata kunci dari dialog malam itu, “Ada
kalahnya Kebenaran Kalah Dengan Perasaan”

 

 

Andai Kau Tahu

July 13th, 2008 by pram-axe26

Andai kau tahu mengapa aku mengambil keputusan

Yang ku sampaikan hanya sebagian

Tapi aku harap engkau mengerti dan memahami

Terima Kasih untuk saling memaafkan

Aku harap diiringi dengan keikhlasan dan ketulusan

Itu sangat  membuat diri ku tenang

Terima Kasih Tuhan Kau anugerahi

Kami dengan hati yang bisa saling memaafkan

Pocket Agenda Merah

July 12th, 2008 by pram-axe26

Pocket Agenda Merah 

Oleh : Ardian Pram  

Kenapa
tiba-tiba aku terpikir dengan pocket agenda merahku, yang aku beli
mungkin enam tahun yang lalu dan sekarang tersimpan dikotak diatas
feeling kabinet didalam kamar kosan dan aku
yakin akan aman kalo ditaruhkan disitu. Itu aku beli di eatalase muslim
ketika menunggu bis didepan kantor, tapi tempat itu sekarang sudah
tidak ada lagi akibat perluasan kantor. Mhh harganya saat itu berkisar
sekitar Rp. 10.000-an tidak terlalu mahal tetapi istimewa bagiku,
karena didalamnya aku menaruhkan cerpen/tulisan yang dikirim ke
seseorang ke-imelku, saya lupa pengirimnya dan cukup berkesan, sehingga
aku abadikan dan print diatas selembar kertas dengan setting orientasi
landscape yang memiliki  tiga kolom, semua itu dengan tujuan agar dapat
dipotong sesuai dengan ukuran pocket agenda harianku, dan suatu saat
akan kuberikan kepada orang yang akan menjadi istriku. Ketika aku coba membukanya ternyata masih terselip disitu. 

Kubuka
kembali catatan harianku yang sudah lusuh, kertasnya yang dulu putih
kini sedikit menguning tapi tintanya yang berwarna hitam maupun biru
tetap terbaca jelas, Kubuka
satu persatu halaman pertama ada identitas personal diriku, Lembar
berikutnya Kata Pengatar Panerbit dan dilengkapi beberapa tulisan
tentang Intisari Ajaran Agama Islam, Kemudian ada Daftar Telepon
Penting. Dan baru masuk ke Dalam Lembar Catatan 

Terterah tanggal 16 Januari ‘03

Pokok Bahasan : Birul Walidain (Berbakti kepada orangtua) 

(QS : Al-Isra 23-24)

Dan berikutnya space kosong disediakan untuk menulis minimal arti dari firman Allah tsb karena saat itu belum sempat menulisnya 

Dalam
kesempatan ini aku akan coba menuliskan lagi dan berusaha untuk
memahami makna yang tersimpan dalam Surat tersebut walaupun doa ini
sering kita panjatkan yang artinya:

Ayat
23 : Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan
sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah
kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
 

Ayat
24 : Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai tuhanku, kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua mendidik aku waktu kecil.

 

Kemudian ada point-point tentang adab berdakwah kepada orang tua diantaranya

(Mungkin bukan berdakwah kali ya seperti terkesan menggurui tapi lebih adab bergaul , interaksi dan berdiskusi kepada orang tua)

  1.  Ikhlas
  2.  Menghormati dan memuliakan mereka
  3.  Sopan, santun dan berkhidmat
  4.  Patuh dan taat terhadap perintah orang tua
  5.  Tidak secara frontal/bertahap
  6.  Menjaga shilaturahim
  7.  Mendoakan kedua orang tua

Ya
itulah point-point yang disampaikan saat itu tetapi tidak banyak uraian
dari setiap point pada catatanku itu, pikiranku melayang ke beberapa
tahun lalu dan aku menanyakan pada diriku apakah saat keduanya ada aku
dulu melakukannya. Sekarang salah seorang dari mereka telah tiada tapi
doaku tak pernah lepas kupanjatkan untuk mereka.

Lembaran berikutnya 

Tanggal : 23 Januari ‘03

Pokok Bahasan : Karekteristik Pribadi Muslim Yang Soleh/Solehah 

  1. Akidahnya benar (fondasi/landasan kita beriman)
  2. Ibadahnya benar
  3. Akhlak yang kokoh
  4. Mandiri
  5. Tubuh yang kuat dan sehat
  6. Intelektual berkembang
  7. Kerja sesuai aturan/professional, rapi dan cermat dalam berkarya serta sistematis
  8.  Menjaga diri dari hal-hal yang merusak
  9.  Menjaga dan memanfaatkan waktu
  10. Berguna untuk orang lain

Pada
pokok bahasan ini aku tertegun lama dan menyadari, Oh sungguh jelas
bahwa pribadiku jauh dari kriteria diatas dan tidak menyadari sungguh
banyak salah dan khilaf yang dilakukan.

Sungguh
mulia risalah yang engkau turunkan Ya Allah dan disampaikan dengan
indah dan penuh kedamaian oleh Rasul-Mu Muhammmad SAW kemudian
dilanjutkan oleh para sahabat dan salafus shalih hingga kepada kami ummatmu.. 

Lembar-lembar
berikutnya banyak lagi catatan-catatan kecil yang aku tuliskan saat
pertemuan tetapi dilihat dari periode tanggalnya sudah tidak berurutan
lagi, pada dua catatan awal terlihat jelas bahwa periode catatan
berulang selama tujuh hari tapi kemudian sudah
hitungan bulan bahkan ada yang beberapa bulan dan catatan kecil itu
berhenti dan tidak berlanjut lagi sejak 12 februari 2005.

Sekarang tanyakan pada dirimu, apa engkau ingin terus larut mengikuti keadaan dan kau akan berhenti belajar? 

Tidak
jawabku, semuanya akan aku jadikan pembelajaran dan berusaha untuk
terus memperbaiki diri karena setiap fase kehidupan adalah pelajaran
berharga yang sering kita tidak sadari. Dan terus-dan terus- teruslah
untuk belajar sehingga nantinya sampai pada titik berguna dan
bermanfaat bagi orang lain hingga akhir dari sebuah kehidupan.

 

Curahan Hati Hamba Yang Dhoif

12 Juli 2008, 15:56